Naudzubillah! Akibat Sombong dan Suka Pamer di Sosmed, Sekeluarga ini Kena Azab Pedih

Diposting pada

Sudah 11 tahun berumah tangga AP bersama istri dan dua anaknya masih tinggal di rumah kontrakan. Hingga suatu hari si pemilik kontrakan mengabarkan mau menaikkan harga sewa rumah menjadi Rp 16 Juta per tahun.

Dengan gaji pas UMR sebagai staff karyawan swasta, belum lagi biaya hidup di kota Surabaya cukup tinggi, keuangan keluarga AP terseok-seok. Sementara istri cuma kerja di rumah sebagai pedagang jilbab on line sambl mengasuh anak, istrinya sudah melamar kerja ke sana kemari belum ada perusahaan yang menerima.

Ujian berikutnya pun datang. Karena kepepet AP melakukan korupsi bersama teman-teman untuk project yang cukup besar. Untunglah jajaran direksi mau menyelesaikan kasus itu secara kekeluargaan. Namun imbasnya AP dipecat.

Setiba di rumah bukannya ditenangkan dan disemangati, tetapi terjadi pertengkaran mulut antara AP dan istrinya. Sampai-sampai AP kabur dan tidak tidur di rumah, dia mengegas sepeda motor tanpa arah dan tujuan.

Di saat penuh gelisah itulah HP nya berdering. Mertuanya menelpon. Syukurlah ternyata istrinya tidak mengadu, mertuanya hanya menanyakan kabar. Cuma saja ada sindiran cukup nyelekit. “Semut ada sarangnya, burung ada sarangnya, lebah juga punya sarang, kalian kapan ni? Kalau ditunda-tunda terus dan takut ini itu ntar harganya pasti naik terus. Atau perlu ibu bantu untuk DP?” Ucap ibu mertuanya dengan nada halus.

AP pun menolak dan bilang kalau karirnya sedang naik dan bentar lagi akan beli rumah. “tahun depan bu Insyaa Allah. Bantu do’akan aja.” Ucap AP mengakhiri percakapan. AP berbohong tentang karir dan kasusnya.

Tiga bulan berlalu AP belum kunjung mendapat pekerjaan baru. Dia pun jadi sering bertengkar dengan istrinya, pemicunya tidak lain karena himpitan urusan ekonomi. Tabungan AP mulai menipis. Hanya cukup untuk biaya hidup 3 minggu lagi.

Saat terdesak itulah selepas sholat jum’at dia bertemu dengan teman kuliah yang bekerja sebagai sales property. Mereka cerita panjang lebar, hingga beralihlah topik pembicaraan tentang pekerjaan. AP pun menceritakan semua permasalahan ekonomi dan pekerjaannya.

Temannya itu pun prihatin dan mengajak AP bergabung jadi sales property. “Tapi kita di sini tidak ada gaji pokok. Komisinya juga kecil cuma 2%. Hanya saja dagangan kita ratusan juta sampai milyaran. Sekali closing bisa dapat banyak.” Jelas temannya. AP pun tertarik dan menyanggupi karena sudah bosan menganggur dan capek masukin lamaran gagal terus.” Yang penting ada peluangnya ya diambil”, ucap batinnya.

AP pun menjalani pekerjaan barunya dengan semangat. Dia selalu terbayang-bayang istri yang mulai seperti tidak percaya, dan nasib anak-anaknya. Dia merasa keluarganya berada di ujung tanduk.

Performa AP sebagai sales property terbilang bagus, dia cepat memelajari sistem kerja yang berlaku dan rajin mencari ilmu di internet dan belajar langsung dari temannya yang sudah berpengalaman. Bila temannya dalam sehari bisa mendapat list rumah yang dijual/disewa sebanyak 5 buah. AP bisa mendapat 10 lebih list per hari. Dia rajin berkeliling membagikan brosur di jalan-jalan dan juga rutin ikut jaga pameran property.

Ungkapan ‘kerja keras tidak pernah mengkhianati hasil’ pun berlaku. Di munggu ke 2 AP berhasil meyakinkan calon custemernya, dia ‘pecah telor’. Hebatnya rumah yang berhasil dijualkannya bernilai Rp 2,4 Milyar. Betapa girangnya hati AP. Belum selesai merayakan kegembiraan, 3 hari kemudian dia closing lagi untuk rumah yang harganya juga miyaran.

Hari-hari sulit AP berubah seketika setelah itu. Dia semakin menekuni dan mencintai profesinya. Tidak tanggung-tanggung, demi investasi ilmu dia berani bayar mahal seminar pelatihan property dengan pembicara terkenal. Dia semakin mahir sebagai seorang sales property. Mengingat pengalaman kerja sebelumnya juga sebagai staff marketing.

Tabungan AP kembali berisi dan mulai gendut. Lebih dari cukup untuk DP rumah tipe 36 di wilayah pinggiran Surabaya. Ditambah lagi sebagai sales property AP jadi tahu lokasi yang terbaik, juga harganya.

Istri pun tidak muring-muring lagi. Finansial keluarganya kembali sehat. Hanya saja AP mengalami perubahan prilaku. Karena merasa punya uang lebih dia jadi berubah sombong dan suka pamer. Penampilannya pun bergaya tidak biasanya. Sampai-sampai saat momen santai buka puasa dengan teman-teman semasa kuliah dia mengenakan costum layaknya seles profesional. “wah sukses ya kamu sekarang.” Tegur salah satu teman lamanya. “Iya lah bro, masa hidup gitu-gitu aja gak ada kemajuan.” Ucap AP dengan gaya percaya dirinya.

Sepulang dari acara buka puasa itu, AP ditelpon oleh salah satu temannya yang juga ikut buka bareng. Ternyata teman yang menelponnya itu sedang bingung gak punya cukup uang untuk biaya operasi istrinya yang kena katarak. Temannya itu mau pinjam uang.

“Nah bukannya kamu dulu motivator ya saat kuliah. Harusnya bisa kerja lebih semangat dong. Bukannya gak mau minjemin. Uang ku sih ada. Tetapi kamu harus kerja keras bro. Kamu bisa melawati ujian itu. Tuhan tidak akan pernah menguji di luar batas kemampuan kita. Ya seperti yang bisa loh bilang saat seminar-seminar gitu.” Ucap AP enteng.

Sikap AP juga berubah kepada kedua orang tuanya. Dia jarang menanyakan kabar orang tuanya. Apalagi mertuanya yang pernah menyindir soal ‘semut punya sarang’.

Ketika mudik ke daerahnya, AP memilih menyewa mobil. “Yaang, ntar kalau orang di kampung ada yang nanya. Bilang ini mobil kita ya.” Ucap AP. Istrinya pun kegirangan menyetujui. Mereka sudah mengatur sekenario pengen pamer.

Tidak lupa sebelum berangkat mudik mereka posting foto keluarga di sosial media. Bersama rumah dan mobil sewaan. “Alhamdulillah mobil baru. Rumah sudah tidak lagi ngontrak. Persiapan sebelum mudik. Maaak anakmu sudah sukses! #Yang Kere Jangan Ngiri.” Tulis AP di akun sosial medianya. Tidak hanya itu AP juga memamerkan beberapa kegiatannya sebagai sales dengan pakaian terbaiknya lengkap dasi dan jam tangan bermerk mahal.

Akibat Sombong dan Suka Pamer di Sosmed. Sekeluarga ini Kena Azab Pedih
Sumber Ilustrasi :tribunnews.com

Namun Azab bagi manusia sombong itu pun tiba. Saat dalam perjalanan, tepat di tikungan, rem mobilnya blong dan AP membanting setir demi menghindari tabrakan dengan truk container. Tapi kecepatan mobil itu tidak bisa diimbangi. Berdebam menabrak lapak pangkas rambut.

Mobilnya pun nyungsep dan penyok. Istrinya terluka parah di kepala dan tidak sadarkan diri, satu anaknya pun mengalami patah lengan kanan, satunya lagi yang masih usia 2 tahun meninggal di tempat kejadian. Sementara AP luka-luka di wajah dan kaki kanannya patah. Lidahnya pun terluka parah beserta beberapa gigi rontok karena benturan hebat.

Setelah itu AP menjadi linglung dan suka berdiam diri. Suaranya pun menjadi aneh karena cidera di lidah. Momen bahagia libur lebaran pun menjadi duka melepas kepergian anaknya selama-lamanya. Tidak hanya itu, dia pun harus mengganti mobil Avanza yang disewanya.

Hikmah dari kisah ini adalah jangan sombong. Allah SWT membenci manusia yang berlaku sombong. Apa sih yang patut kita sombongkan dalam hidup ini? Semuanya adalah milik Yang Maha Berpunya. Kita ini hanya ngaku-ngaku aja. Kita ini cuma dititipi. Suatu saat harta benda yang ada pada kita pasti akan dibambil oleh Allah SWT.

Loading...