Kisah Sarjono Si Tukang Sol Sepatu, Punya 3 Istri Tapi Tak Pernah Susah

Diposting pada

JIKA Anda mesti naik kendaraan yang memakai bensin ke tempat kerja, Sarjono tidak. Dia pergi dan pulang mencari nafkah cukup dengan kedua kakinya saja.

Sarjono seorang tukang sol sepatu. Kami dipertemukan oleh keadaan, Sabtu pagi, 2 Juni. Dia melintas di depan rumah saya dengan dua kotak kayu yang dipikul. Ada tulisan menggunakan plaster yang digunting seadanya. Isi kotak bisa saya tebak. Jarum, benang nilon, lem, dan mungkin ada pisau.

Sarjono tak teriak tetapi saya bisa paham keahliannya. Saya bergegas mengambil sepasang sepatu olahraga yang terangkat depannya. Sepatu baru, tetapi diskon lebih dari 70 persen. Belum dua bulan sudah terkelupas.

“Rp20 ribu saja, Mas,” kata Sarjono usai mengusap permukaan sepatu berwarna hijau, bernomor 39 itu.

Sepatu saya adalah sepatu pertama yang ditangani Sarjono hari ini. Mungkin juga menjadi sepatu yang terakhir bila rezeki sedang tak begitu baik.

Kata lelaki Solo itu, kadang dalam sehari tak mendapatkan satu pekerjaan pun. Dia tidak begitu mengerti mengapa ada tren seperti itu. Namun selain soal garis tangan, barangkali juga karena pada hari itu, di sepanjang jalur yang dijalaninya, tak ada satu pun sepatu yang membutuhkan sentuhannya.

Rute kerja Sarjono terjadwal. Bila Sabtu seperti hari ini, dia akan berjalan dari kamar kontrakannya di samping Pasar Batangase, Maros lalu finis di dekat markas militer di Kariango. Entah siang, sore, atau malam. Tergantung apa yang mesti diselesaikannya. Di hari lain rutenya beda lagi. Senin misalnya, dia ke Bentenge.

Saya membuka Google Maps. Jarak dari kamar Sarjono ke sekitar tempat latihan tentara Kostrad di Kariango itu tidak kurang dari 6,1 kilometer. Berarti pergi pulang 12,2 kilometer.

“Di luar Ramadan, dapat Rp40 ribu sehari saja artinya sama saja tidak dapat apa-apa. Habis untuk operasional. Makan, minum berkali-kali, dan rokok,” ucapnya usai membetulkan sepatu saya yang sebelah kiri.

Tetapi bisa makan, minum, dan merokok saja dia sudah bahagia. Apalagi jika ada cukup persediaan untuk bayar kontrakan yang Rp400 ribu sebulan.

Sarjono memang tak punya keharusan mengirim uang ke suatu tempat. Istrinya yang tiga; satu di Solo, satu di Kendari, dan satu di Balikpapan, disebutnya hidup mapan. “Yang di Kendari itu PNS,” akunya.

Sarjono justru pergi dari mereka karena takut menjadi beban. Meski begitu, tak ada kata cerai dalam tiga hubungan itu.

“Saya cuma titip pesan. Kalau misalnya mau cari suami lain, telepon saja. Saya akan datang mengurus surat-surat.”

Bertahun-tahun, telepon dari seseorang yang meminta ditalak tak pernah ada. Sarjono pun tetap menyisakan cinta untuk mereka.

Tanpa penjelasan, saya percaya bahwa perasaan itu masih ada. Lelaki yang tadi mengenakan topi itu berkaca-kaca matanya saat bercerita soal rumah tangganya.

“Saya tak meninggalkan mereka dengan tangan kosong. Semua pesangon saya dari tempat kerja di dekat rumah mereka, saya kasikan,” ucap pria yang cuma memiliki satu anak itu.

Di Kalimantan, Sarjono bertahun-tahun di perusahaan tambang. Pesangonnya lumayan. Dia lalu ke Sulawesi dan bekerja di Kolaka. Tambang juga. Kontrak habis, uang tanda jasa diterima, dia pergi.

“Saya merasa harus melakukan itu. Ada yang mengganjal bila pendapatan mereka lebih besar,” tuturnya lagi.

Lagipula, Sarjono terbiasa sendiri. Dia merantau sejak 1990. Mengucapkan selamat tinggal pada Solo dengan bekal Rp350 rupiah dari orang tua. Dipakai beli tiket kapal laut Rp175, sisanya untuk memulai hidup di kampung orang. Tiga bulan pertama dia tidak digaji. Cuma dapat makan dari orang yang ditempatinya bantu-bantu.

Sosok yang kini 42 tahun itu baru menyelesaikan petualangannya pada 2013. Itu pun cuma tiga tahun di tanah kelahiran. Sejak 2016 dia sudah di Maros. Membuka babak baru kehidupan sebagai tukang sol sepatu.

Sejak beberapa waktu belakangan, cita-cita Sarjono tak banyak; hidup bahagia tanpa utang, makan dan minum serta rokok terpenuhi.

Soal istri-istrinya, Sarjono siap menempuh apapun jalan Tuhan. Cinta masih ada. Itu akan digunakannya untuk melanjutkan perkawinan bila memang masih berjodoh, sekaligus dipakainya untuk mengikhlaskan bila sewaktu-waktu salah satu dari mereka hendak pindah hati. Atau mungkin tiga-tiganya.

Namun khusus anak, Sarjono menyisihkan perasaan yang jauh lebih besar. Jangankan anak kandung, anak tirinya pun masih dipeduli.

“Kalau mereka ada perlu, menelepon, dan saya punya uang, pasti ta’ kirimi,” ucap lelaki bersandal galang itu.

Sarjono senang karena tetap memiliki semangat untuk bekerja. Melangkah ke mana saja ada rezeki yang disiapkan Sang Mahapemberi. Menunggu ada sepatu atau sandal yang benangnya lepas, bertepatan saat dia melintas, dan si pemilik sepatu atau sandal mau dan punya uang untuk meminta jasanya.

Namun bagi Anda yang di Maros dan merasa perlu bantuan Sarjono, bisa juga berkunjung ke kontrakannya. Dekat pasar, masuk lorong sedikit, di depannya ada bidan praktik swasta.

“Namanya Bidan Cia. Kami berhadapan tempat tinggal. Tanya saja mana mas si tukang sol sepatu. Tidak ada yang lain di situ,” jelasnya.

Cara mendapatkan duit Sarjono memang sesimpel itu. Sepanjang obrolan kami, tak ada gagasan dia untuk menempuh cara marketing yang lebih ramah dengan zaman. Saya juga lupa mengecek jenis ponselnya. Apakah berisi layar sentuh dan bisa disambungkan ke internet atau sekadar untuk menelepon, sms, dan dipakai sebagai senter.

Tetapi toh Sarjono sudah merasa cukup dengan semua itu. Bukankah tujuan hidup hanya untuk bahagia? Dan itu sudah (tampak) dicapainya.

Apalagi, ada iman di dada Sarjono. Rasa percaya bahwa jatah makan, minum, dan segalanya, sudah ada yang takar dan atur. Terbukti sekali lagi, usai menjahit sepatu saya, tiga tetangga datang dan menyodorkan sepatu yang juga tak beres keadaannya.

Sepatu saya bukan kerjaannya yang terakhir ternyata. Dan barangkali akan semakin banyak jahitan setelah ini.

Orang era sekarang sepertinya kuat-kuat memakai alas kaki. Sebab harus mengikuti kesibukan tuannya yang terus berlari, mengejar rezeki dengan ngos-ngosan. (imamdzulkifli/fajaronline)

Loading...