Siapa Sangka, Dari Hasil Jualan Rempeyek, Ibu Ini Bisa Raih Rp300 Juta/Bulan

Diposting pada

Bermula dari kekosongan hari-hari setelah kepergian sang suami, Hastuti (57) seorang ibu rumah tangga asal Malang, Jawa Timur, memilih untuk berjualan rempeyek kacang dengan modal Rp200 ribu. Awalnya, ia berharap bisa menghilangkan kesepian dan menyambung hidup tanpa nafkah sang suami.

Hastuti pun mulai menjual rempeyek dengan menitipkan ke warung-warung kelontong. Respons pasar di awal usaha sangat positif. Padahal, ia tidak memiliki keahlian khusus dalam hal memasak, apalagi memiliki resep rahasia. Rempeyek yang dibuatnya sama dengan rempeyek pada umumnya. Hanya saja, untuk komposisi, Hastuti selalu menjadikan daun jeruk sebagai khas rempeyek buatannya.

Berjualan rempeyek pun ditekuni Hastuti dengan penuh syukur. Meski untung dari berjualan rempeyek tidak sebesar berbisnis pakaian atau produk makanan mewah, namun ia selalu mensyukuri hasil yang diperolehnya itu.

Sampai suatu hari, anak Hastuti yang saat itu bekerja di luar kota, pulang ke rumah dan menyaksikan usaha baru ibunya di rumah. Tanpa banyak bertanya, sang anak memotret setiap produk yang diproduksi ibunya dengan tekun.

Ia pun membuatkan akun media sosial agar produk sang ibu bisa dipasarkan dengan jangkauan lebih luas. Tidak lama setelah akun media sosial rempeyek Hastuti dibuat, pasar untuk rempeyeknya pun mulai dikenal lebih banyak orang, bahkan hingga ke pasar luar negeri.

“Di sosial media, ada orang Korea mengetahui, terutama Korea dan Hong Kong. Tapi, yang pertama menelepon itu orang Hong Kong. Nah, orang Hong Kong itu telepon mau beli peyek. Saya pikir, masa sih saya orang biasa di rumah, masa ada orang yang tahu sampai orang Hong Kong. Nah, di situ saya merasa seperti dikerjai. Dan pada akhirnya orang Hong Kong itu benar mau beli. Saat itu dia bilang, ibu tolong hitungkan harga berapa, jangan pakai lama, kalau lama itu batal. Ternyata pada saat itu benar, setelah saya kasih harga saat itu juga pesan dan ditransfer hampir Rp10 juta untuk pesanan rempeyek,” ungkap Hastuti beberapa waktu lalu.

Saat itu Hastuti mengaku dirinya mengambil uang transfer dengan sedikit nekad. Karena, menurutnya, ini adalah pertama kali produk rempeyeknya mendapat order dari luar negeri. Kemudian Hastuti pun bergegas untuk mencari tenaga pembantu dari tetangga sekitar, yaitu para ibu rumah tangga yang tidak memiliki kesibukan.

Meski sempat pesimis karena diberi waktu satu minggu untuk menyelesaikan orderan satu kuintal rempeyek, namun Hastuti tidak ingin menyiakan kesempatan tersebut.

“Nah, saat itu saya kan punya tetangga ibu-ibu. Dari situ saya mencoba ke ibu RT minta tolong kalau ibu-ibu yang di sekitar rumah itu, bisa tidak, saya minta tolong untuk bantuin bikin rempeyek. Nah di situ otomatis saya harus konsisten bumbunya dan adonan itu saya pegang sendiri,” cerita Hastuti.

Hastuti yang tidak memiliki keahlian dalam berbisnis tetap optimis bahwa dirinya bisa memenuhi pesanan itu. Bekerja siang malam untuk memenuhi target, Hastuti akhirnya mampu menyelesaikan pesanan perdana ke Hong Kong tanpa kendala apapun.

Usaha rempeyek Hastuti pun terus berkembang hingga kini menjadi perusahaan bernama CV Arjuna 999. Orderan dalam maupun luar negeri pun mulai membanjiri rumah Hastuti. Kini, Hastuti bisa meraup omzet hingga Rp300 jutaan per bulan.

Hastuti pun kerap mendapatkan penghargaan dari berbagai lembaga pemberdayaan UKM baik dari pemerintah maupun swasta. Hal itu karena konsistensi produk dan usaha rempeyek Hastuti.

Loading...